BUDAYA  

Dari Asal Usul Nama Kendari Hingga Bangunan Ikonik Masjid Terapung

Dari Asal Usul Nama Kendari Hingga Bangunan Ikonik Masjid Terapung
Ketika berada di pelataran Masjid Al Alam (atau, masjid terapung) tempat pelaksanaan puncak HPN, Rabu (09/02/2022). --dok--

Catatan: Sulaeman Rahman

Hari Pers Nasional (HPN) digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara. Tokoh pers dan ratusan wartawan dari seluruh Indonesia berada di kota ini mengikuti puncak HPN tanggal 9 Februari 2022. Menariknya, lantaran dilaksanakan di pelataran Masjid Al Alam di Teluk Kendari.

***

Dalam catatan sejarah menyebutkan Kota Kendari terbentuk berawal dari terbukanya Teluk Kendari menjadi pelabuhan para pedagang. Namun, tahukah anda asal usul nama Kendari? Konon, kata Kendari berasal dari kata Kandai.

Menurut keterangan penduduk lokal, Kandai adalah sebuah alat yang terbuat dari bambu atau kayu. Kandai digunakan penduduk Teluk Kendari untuk mendorong perahu.

Kendari sendiri terbentuk menjadi kota madya tanggal 27 September 1995.

Dikutip dari Kompas.com bahwa asal-usul nama Kendari diduga muncul pada 1926 dan konon diberikan oleh orang Belanda. Namun, ada juga yang meyakini bahwa nama Kendari telah muncul jauh sebelumnya, tepatnya pada abad ke-16.

Sejarah menyebut pada permulaan abad ke-16, bangsa Portugis berlayar ke arah timur Nusantara untuk mencari Kepulauan Maluku yang dikenal kaya akan rempah-rempah. Dalam perjalanannya itu, mereka singgah di Teluk Kendari dan bertemu dengan orang yang sedang membawa rakit. Orang-orang Portugis tersebut segera mendekati mereka dan menanyakan nama kampung yang saat itu sedang disinggahi.

Namun, karena keterbatasan bahasa di antara mereka, pembawa rakit mengira orang-orang Portugis menanyakan pekerjaannya. Alhasil, penduduk itu menjawab dengan kata Kandai, yang artinya adalah dayung atau mekandai (mendayung).

Jawaban yang diberikan oleh pembawa rakit kemudian dicatat oleh bangsa Portugis, bahwa kampung yang mereka singgahi itu bernama Kandai. Lama-kelamaan sebutan Kandai berubah menjadi Kandari dan kemudian berubah menjadi Kendari.

Awal abad ke-16 Teluk Kendari dikenal oleh para pelaut Nusantara dan Eropa sebagai jalur persinggahan dari dan menuju Ternate atau Maluku. Peta Portugis pada awal abad ke-16 telah menunjukkan adanya perkampungan di Pantai Timur Celebes atau Sulawesi.

Dalam sastra lisan suku Tolaki, wilayah Teluk Kendari disebut dengan nama Lipu I Pambandahi, Wonua I Pambandokooha, yang merupakan salah satu daerah di pesisir timur Kerajaan Konawe. Diketahui pada abad 19 penemu, penulis, dan pembuat peta pertama tentang Kendari adalah seorang pelaut Belanda bernama Jacques Nicholas Vosmaer.

Pada 1828, Vosmaer diberi tugas oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk melakukan observasi ke jalur perdagangan di pesisir timur Sulawesi, yaitu Teluk Kendari. Ia lantas pergi mengunjungi Teluk Kendari, dan pada 9 Mei 1831 membangun istana raja Suku Tolaki. Karena itu, Vosmaer pun diizinkan mendirikan loji atau kantor dagang.

Tanggal 9 Mei kemudian dirayakan sebagai hari jadi Kota Kendari. Pasalnya, peristiwa itulah yang menjadi titik tolak perkembangan Kendari menjadi kota pusat pemerintahan dan perdagangan. Pada akhir abad ke-19, para pelayar dari Bugis dan Bajo melakukan aktivitas perdagangan di Teluk Kendari. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan pemukiman kedua etnis tersebut di sana.

Ditetapkan sebagai ibu kota Sulawesi Tenggara di era pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang, Kendari adalah kewedanan sekaligus ibu kota Onder Afdeling (wilayah administratif yang diperintah oleh Belanda). Seiring dengan berkembangnya perdagangan dan pelabuhan laut di Kendari saat itu, maka kota ini terus tumbuh menjadi ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II berdasarkan Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959.

Penetapan Kota Kendari sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara dicantumkan dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964. Saat itu, wilayahnya masih terdiri dari dua kecamatan, yakni Kecamatan Kendari dan Kecamatan Mandonga. Kemudian Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1978 mengubah status Kendari menjadi Kota Administratif yang meliputi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kendari, Mandonga dan Poasia.

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan Kota Kendari, maka dikeluarkan Undang-undang Nomor 6 tahun 1995, yang menetapkan Kota Kendari sebagai Kota Madya Daerah Tingkat II.

Masjid Terapung di Teluk Kendari

Masjid Al Alam menjadi ikon Kota Kendari yang banyak dikunjungi warga sekitar dan para pendatang. Empat buah menara masjid ini dirancang arsitek asal Sulawesi Selatan, Mursyid Mustafa dan dibuat menyerupai Burj Al Arab di Dubai. Masjid ini menjadi ikon wisata religi di Sulawesi Tenggara.

Artikel Liputan6.com menyebut nama Masjid Al Alam di Teluk  Kendari menjadi kian populer. Kerap disebut masjid terapung. Bangunan dengan dominasi warna putih biru itu dibangun 2010 dan tuntas pengerjaannya pada 2018. Total anggaran pembangunan mencapai Rp200 miliar.

Posisinya yang berada di atas permukaan laut, menampilkan kesan elegan. Memiliki empat menara, pengunjung akan langsung teringat ikon Burj Al Arab. Dua menara dengan dominasi warna biru dan putih yang menghiasi sudut masjid, mirip bangunan menara setinggi 321 meter yang berdiri megah di Dubai.

Jika mengamati lebih jeli saat berkunjung, bagian kubah utamanya menggunakan sistem buka tutup. Kubahnya, didatangkan langsung dari Jerman. Bahkan, negara ini, pernah menjadi tempat konsultasi pembangunan kubah Masjid Istiqlal di Jakarta.

Masjid ini selain didesain menjadi lokasi ibadah, juga terus dikembangkan sebagai spot wisata religi di Kota Kendari. Pengunjung dibuat nyaman menikmati suasana Teluk Kendari dari lokasi masjid.

Kubah utama, dengan bentuk dasar setengah lingkaran dengan sistem buka tutup menyerupai kelopak bunga. Jumlahnya, sebanyak delapan unit. Bukan tanpa makna, angka ini merupakan simbol konsep Islam dan konsep lokal pahlawan Halu Oleo.

Posisi Masjid Al Alam di tengah Teluk Kendari, bisa disejajarkan dengan Masjid Al Rahma di Jeddah atau Masjid Malaka di Malaysia. Kemegahannya juga bisa disamakan dengan Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin di Brunei Darussalam atau Masjid Bandaraya Kinabalau Malaysia yang sama-sama berdiri di atas permukaan laut.

Masjid dengan luas 12.692 meter persegi, terbagi menjadi bangunan utama masjid, plaza tertutup dan terbuka. Para pemburu foto, kerap menjadikan lokasi ini sebagai salah satu tempat favorit mereka. Merugilah rasanya jika ke Kota Kendari tidak mengunjungi masjid ikonik ini. (*)